apa ertinya rindu?
-rindu pada famly
-rindu pada kawan
-rindu pada si 'dia'
-rindu pada guru
-rindu pada kesenangan
-rindu pada kebahagiaan
-rindu pada kejayaan
-rindu pada ......
-rindu pada Allah?
agak2nya kita tergolong dlm yg mna?
tpuk dada, tnya iman..
rindu menurut para ulama..
suatu prasaan yg terbit rentetan drpd kita TERLALU mncintai sseorg...
siapa/apa sbnarnya yg kita cinta dan siapa/apa yg kita rndu??
fkir2 smula..
hakikatnya siapa yg mnerbitkan prasaan 'cinta' dan 'rindu' dlm dri kita..??
oleh itu siapa yg sharusnya kita rindukn?
pada mulut..
kita ckp, kita rndukn...
-rindu pada famly
-rindu pada kawan
-rindu pada si 'dia'
-rindu pada guru
-rindu pada kesenangan
-rindu pada kebahagiaan
-rindu pada kejayaan
-rindu pada ......
tp pada hati?...
mcm mne?..
hakikatnya kita ksepian krna rndukan kasih-NYA..
kita rindukan Kemaafan drNYA..
tp nafsu dan ego kita mnafikan smua tuu..
bg ssiapa yg sdg dilamun rndu skrg niy...,,
cubalah utk dektkn dri pdnya...
INSYAALAH..rindu kita, kasih kita, cinta kita padaNYA
akn bawa kita ke syurgaNYA..
AMIN....
Lots 0f Love~
Selasa, 15 November 2011
Isnin, 28 Disember 2009
sAhaBat::tEman::rAkaN::kAwan::Member
kli ni sy xmo cite ngarut2, oke?
.tp nk share smething yg berkait rpat dgn khidupn sharian kte..
nk bce ke?
korg bley bce..xde sapa nk mrh..
tp..
klaw boring tekn arrow yg ade kt pnjuru kiri (atas) antum smua..okeh?,, :)
Sahabat itu sihat..?
sahabat yg baik alwayz ade di sisi kite ktka kte mmerluknnya. sy x kire r u all nk caye ke dop tp sy nk kbo gop..huhu^^..actlly, dgn b'sahabat..ia mnjadikn umur kte lbih pnjg.
bukti :-
1 kajian tlh dijlnkn di Australia, dan didpti individu2 yg dikelilingi dgn sahabt pd usia tua..cenderung utk b'tahan hdup dgn lbih lama..dlm kjian ini jg tlh mmbuktikn bhawa khadirn dan komunikasi dgn sahbt mmpu mengurgkn rse cemas skali gus mnjdkn hdup lbih tenang..~
Pmpuan memiliki lbih rmai sahabt b'bnding laki2 c0z llaki sering mengelak utk memiliki 1 p'hbungn dan mudah t'singggung dlm p'sahbtn..
>kaum lelaki hanya gemar memiliki kwn skadar utk mnemani mreka dlm mlakukn ssuatu aktiviti sperti b'sukn..
> kaum pmpuan mmerlukn seorg sahbt yg akrab dlm khidupn mreka..
Khamis, 3 September 2009
LEVEL OF LOVE BASED FROM AL-QURAN
Menurut hadis Nabi: Orang yang sedang jatuh cinta, cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu).
Sabda Nabi: Orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Sabda Nabi juga: ciri dari cinta sejati ada tiga ~
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemahuan yang dicintai dibanding kemahuan orang lain/diri sendiri.
bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.
Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, mahunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih walaupun ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim ertinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) boleh jadi seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyedari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sanggup membangunkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta yang mendorong kelakuan yang menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab “Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin”, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, (hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi).
8. Cinta kulfah yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
Sabda Nabi: Orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Sabda Nabi juga: ciri dari cinta sejati ada tiga ~
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemahuan yang dicintai dibanding kemahuan orang lain/diri sendiri.
bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.
Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, mahunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih walaupun ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim ertinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) boleh jadi seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyedari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sanggup membangunkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta yang mendorong kelakuan yang menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab “Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin”, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, (hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi).
8. Cinta kulfah yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
Isnin, 24 Ogos 2009
Cinta??
Apakah itu cinta?......Cinta itu perasaan jiwa semula jadi.Ia adalah fitrah yang menjadi salah satu sifat manusia.Ia wujud bila hati tertarik kepada yang dicintainya itu penuh emosi dan gembira kerana itu. Dalam memenuhi keperluan untuk puas dalam cinta,manusia menghadapi krisis nilai.Insan yang mula jatuh cinta akan bersungguh untuk mencapai kepuasan dalam cinta itu. Ada yang menjadi buta dan kabur nilai akibat bercinta.Tapi bagi yang bijaksana mereka mendambakan..cara yang sesuai dan mulia untuk memenuhi keperluan cintanya itu. Insan sebegini ingin hidup yang bersih dan penuh taqwa. Sifat Cinta...Cinta itu suci,mahal dan tinggi tarafnya.Sifat cinta itu sempurna.Jika tidak,cinta akan cacat. Itulah cinta sebenar cinta. Untuk mengetahui dengan lebih dekat, kita perlulah tahu sifat-sifat cinta ;Cinta Wujud Sejak Dilahirkan, Rasa cinta sedia wujud di dalam jiwa manusia sejak manusia itu lahir ke dunia.Cuma manusia akan melalui tahap-tahap kelahiran cinta bermula dari cinta kepada belaian ibu, membawa kepada cinta kepada kekasih dan akhirnya setelah puas mencari cinta suci, maka akan cinta kepada Tuhan Wujudnya cinta itu tidak dapat dilihat tapi dapat dirasa dan cinta sebenar cinta itu suci murni serta putih bersih.Cinta Bersedia Bila sampai masanya di setiap tahap-tahap cinta, maka Tuhan menjadikan manusia itu bersedia menerima cinta itu.Pada mulanya jiwa itu bersedia menerima cinta, lantas sedia pula untuk berkongsi rasa kewujudan dengan dikasihi.Sedia untuk mengikat setia serta saling memahami.Setia untuk dipertanggungjawabkan kerana cinta.Sedia untuk menyerah diri pada yang dicintai. Cinta Itu Indah walaupun kewujudan cinta tidak bisa dilihat, tetapi cinta itu indah dan cantik.Cantiknya itu tulin dan tidak ia bertopeng. Bukan saja ia cantik malah suci murni, bercahaya gemerlap dan putih bersih.Cinta Itu Mengharap Balasan Cinta antara manusia itu berkehendak kepada jodoh atau pasangan,dari diri yang punya persamaan,dari diri yang asalnya satu.Bila dapat yang dicari,bermakna cinta itu menganggap telah bertemu yang paling sesuaidan secucuk dengan jiwanya,untuk bersatu kembali. Kehendak itu timbul balik sifatnya kerana manusia dalam bercinta tidak hanya menerima tapi juga menerima. Cinta Itu Menakluki Sifat cinta itu ingin menguasai. Dia mahu yang dikasihinya itu hanya khusus untuk dirinya.Dia tidak mahu ianya dikongsi dengan orang lain.Sifat ini menuntut hak untuk mencintai dan dicintai.Tapi,dalam pada ingin menakluki,ia juga ingin ditakluki sepenuhnya.Cinta Itu Mengetahui Pada asasnya sebenarnya cinta itu mengetahui.Orang yang bercinta tahu siapa yang patut dicintainya.Cinta tidak perlu bertanya.Manusia boleh jatuh cinta tanpa membaca ilmiah atau novel tentang cinta.Mereka tahu apa yang perlu dilakukan.Tapi,cinta cuma tahu bercinta.Ia tidak tahu akan peraturan cinta jika tiada diberikan panduan.Cinta Itu Hidup Cinta adalah ibarat manusia,boleh berputik,lalu mekar serta boleh layu dan gugur.Cinta itu punya deria dan perasaan.Cinta mendengar cinta,berkata cinta,melihat cinta.Cinta ada segala-galanya.Sayang, benci,cemburu,gembira,sedih,tenang,tertekan,ketawa dan menangis.Cinta itu hidup sampai satu ketika ia akan menemui mati.Tapi ramai orang berharap agar cinta itu kekal selagi dia masih hidup dan tetap hidup walaupun telah mati.Cinta Itu Suci Sebagaimana yang banyak dikatakan orang,cinta itu suci.Sucinya cinta bukan bermakna ia tidak mengharap balasan. Cinta mengharap balasan cinta.Sucinya cinta bermakna ia tidak bernoda dan tidak pula berdosa Itulah sifat asal cinta,ia suci bagaikan anak yang baru lahir.Mereka yang kenal erti cinta akan cuba mengekalkan cinta itu sesuci mungkin.Mengekalkan cinta suci bermakna menjauhkan ia dari godaan nafsu yang tidak ada batasan.Kerana nafsulah cinta suci jadi bernoda dan berdosa.Cinta Itu Mempersona Cinta itu bukan saja indah,tapi mempersonakan.Ia bukan kerana cinta itu nakal sifatnya tapi kerana ia suci dan bersih.Ia adalah sebagai-mana anda melihat pada anak kecil yang comel dan bersih.Dia senyum pada anda dan merapati anda.Anda terpesona kerana bukan saja ianya comel,tapi kerana dia adalah insan yang tidak berdosa.Kerana sifat cinta yang mempersona ini selalunya manusia itu berbuat silap bila bercinta.Apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya...mempersonakannya dan nampak cantik serta betul walaupun itu adalah satu dosa dan akan menodai cinta itu sendiri.Itulah juga yang menyebabkan orang yang bercinta itu walaupun seorang yang bijaksana,akan menjadi bodoh kerana pesona cinta.Akal itu mampudikalahkan oleh nafsu.Nafsu itu tidak bisa dikalahkan melainkan jikaanda sentiasa ingat kepada Tuhan Maha Pencipta.Apakah itu Bukti Cinta?......Cinta perlukan bukti.Ramai orang percaya bahawa bukti cinta itu ialah mengorbankan atau menyerahkan apa saja yang kekasih anda mahu.Mereka percaya jika itu tidak berlaku,maka cinta itu tidak tinggi nilainya.Sebenarnya anggapan itu tidak tepat.Jika anda beri semua yang dia mahu,apakah yang tinggal pada anda? Benarkah dia cinta pada anda bila dia mahukan pengorbanan anda?Cinta sejati tidak memusnahkan atau merosakkan diri kekasih yang dicintai.Malah ia menjaga agar kekasih tetap suci dan selamat sebagaimana sucinya cinta itu sendiri..."Janganlah hendaknya kecintaan anda terhadap sesuatu itu ..membuatkan anda menjadi lupa dan kebencian anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi hancur" - Saidina Umar Ibnul Khattab -
Jumaat, 7 Ogos 2009
Couple ?
Couple itu HARAM ???

EPISOD 1
"Pehh..cun siot !", kata si A sambil membuat bunyi cencurut laut Antartika.
"Ni kalo jadi bini aku ni tak kuar umah la aku nampaknye", kata si B pulak sambil mengenyit-ngenyit matanya yang hanya terbuka setengah sentimeter (cm).
"Huiyyo.. (terkesima)", tak lepas pandangan si C melihat si dia yang terkinja-kinja di tepi jalan. Hampir sahaja cecair yang mengandungi enzim amilase di mulutnya terkeluar daripada tempat tadahan.
Beginilah respon kawan-kawan kita apabila melihat perempuan cantik. Pantang lalu depan mata, habis semuanya dipanah oleh mata-mata liar. Mungkin mereka tidak tahu bahawa panahan mata itu akan berbalik pada mereka sendiri akhirnya. Sedih. Kadang-kadang aku sendiri tak kuat untuk istiqomah dalam hal-hal macam ni. Tapi sentiasalah berdoa moga-moga diberi kekuatan oleh Allah S.W.T. supaya kita dapat melawan dan mendidik nafsu yang tak pernah lesu.
Menjaga pandangan bukannya perkara yang boleh dipandang remeh. Ia merupakan suruhan Allah S.W.T. kepada setiap individu Muslim yang beriman.
Firman Allah S.W.T dalam Surah An-Nur ayat 30 :
"Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan."
Juga dalam Surah An-Nur ayat 31 :
"Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka.."
Jika seseorang individu itu tidak menjaga pandangannya, mungkin dia akan terjebak ke dalam maksiat yg lebih besar iaitu ZINA. Kalau ditafsirkan pemerhatian dan mungkin sedikit pengalaman aku, sequence ke arah zina ni lebih kurang begini:
Pandangan > Lintasan hati > Khayalan > Keinginan > Tindakan > Zina kecil > Zina besar
Sebenarnya sequence ni memang reliable jika difikir secara logik akal yang sihat. Malah, ramai ulama-ulama dan ustaz-ustaz yang berpendapat sama seperti pendapat yang aku terangkan di atas tu, iaitu zina besar bermula daripada zina kecil, yang akhirnya bercambah menjadi dahan-dahan maksiat yang merimbun. Zina bermula dengan pandangan yang tidak terkawal. Daripada pandangan sedemikian, kita semakin mendekati zina.
Untuk lebih faham lagi konsep 'mendekati' di sini, kita ambil satu contoh. Katakan Ali ingin ke
kedai yang jaraknya, let say 1220 langkah. Apabila Ali melangkah setapak keluar daripada rumah itu sahaja dia sudah dikira mendekati kedai tersebut, setuju? Jadi, pandangan yang tidak terkawal itu ibarat langkah pertama ke arah zina.
Part 'Tindakan' tu dah bersepah di merata-rata tempat. Paling berlambak di shopping complex & universiti. Untuk pengetahuan anda, disekeliling aku pun ada sebenarnya. Apa benda 'Tindakan' yang aku maksudkan ni sebenarnya? "COUPLE".full stop. Jika pandangan sahaja dah dikhuatiri akan membawa kepada zina, apatah lagi bercouple? Orang yang berakal sihat sepatutnya tiada masalah nak jawab soalan ni.
Aku anggap mereka yang bercouple ini tidak tahu hukum yang sebenarnya. So, artikel ni adalah bertujuan untuk berkongsi dan MEMBERI TAHU. Jika ada sesiapa yang tengah bercouple atau hampir nak bercouple,dan merasakan maklumat dalam artikel ni akan menghalang niatnya untuk bercouple, maka hati-hati. Syaitan itu sentiasa mengajak ke arah kejahatan. Jika ingin mengikut nafsu syaitan juga, then go for it. Tapi ingat azab Allah di akhirat nanti takkan ada penangguhan.Selepas membaca artikel ni fikirlah kenapa Islam mengharamkan gejala 'couple' sebelum nikah.

EPISOD 2
InsyaALLAH dalam Episod 2 ni aku nak tekankan lagi mengenai penjelasan 'mendekati' atau 'menghampiri' kerana aku merasakan bahagian ni penting untuk kita fahami betul-betul supaya kita dapat mematuhi perintah Allah S.W.T. dalam surah Al-Isra' ayat 32 iaitu :
"Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kerosakan)."
Terang lagikan bersuluh. Kekejian perbuatan zina ini bukan dinyatakan oleh manusia, tetapi dinyatakan oleh Yang Maha Mengetahui. Apabila Allah S.W.T sendiri mengatakan zina ini keji dan satu jalan yang buruk, sudah pasti kecelakaannya maha dahsyat.
Berbalik kepada penjelasan tentang 'menghampiri', sedangkan menghampiri zina sudah diharamkan, inikan pula melakukannya. Contoh menghampiri zina adalah seperti melihat gambar lucah, berdua-duaan lelaki dan wanita ajnabi, pergaulan bebas antara jantina berlainan (ikhtilat) dan juga melihat aurat orang lain.
(contoh yang paling banyak : berjalan berdua-duaan dan beriring-iringan. Walaupun tak berpegangan tangan, tapi amat menjelikkan)
Kuatkanlah hati kita wahai kawan-kawanku sekalian, supaya kita berupaya menegakkan kebenaran yang satu ini. Jangan sesekali diikut tuntutan nafsu. Jangan sesekali patuh pada ajakan syaitan laknatullah dan tertipu dengan tipu daya mereka. Ingatlah bahawa mereka pernah menipu moyang kita, Nabi Allah Adam a.s. dan Hawa.
Surah Al-A'raf ayat 20 :
"Setelah itu maka Syaitan membisikkan (hasutan) kepada mereka berdua supaya (dapatlah) dia menampakkan kepada mereka akan aurat mereka yang (sekian lama) tertutup dari (pandangan) mereka, sambil dia berkata: Tidaklah Tuhan kamu melarang kamu daripada (menghampiri) pokok ini, melainkan (kerana Dia tidak suka) kamu berdua menjadi malaikat atau menjadi dari orang-orang yang kekal (selama-lamanya di dalam Syurga)."
Jika kita lihat Surah Al-A'raf ayat 19, Allah telah berfirman kepada Adam dan Hawa supaya jangan MENGHAMPIRI sepohon pokok di syurga. Larangan sebenarnya adalah supaya Adam dan Hawa tidak memakan buah pokok tersebut.
"Dan wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di dalam Syurga serta makanlah dari makanannya sepuas-puasnya apa sahaja kamu berdua sukai dan janganlah kamu hampiri pokok ini, (jika kamu menghampirinya) maka akan menjadilah kamu dari orang-orang yang zalim."
Merujuk kepada larangan Allah S.W.T. kepada kita supaya tidak menghampiri sesuatu itu, amat jelas bahawa perkara yang dilarang itu dapat memberi mudarat yang besar sehinggakan menghampirinya pun tidak dibenarkan! Ini bertujuan untuk menghindari perkara-perkara mungkar sehingga ke akar-akarnya. Lihatlah betapa kasihnya Allah kepada kita.
Adakah kita ingin mengulang kesilapan Adam dan Hawa sedangkan pengajaran sudah ada di depan mata? Bodohlah orang-orang yang membutakan mata hatinya tanpa ingin mengambil pelajaran.
Mengikut kaedah usul fiqh, sesuatu yang membawa kepada haram, maka hukumnya haram. So, equation ber'couple' sebelum nikah adalah :
couple = menghampiri zina
menghampiri zina = haram
maka, couple = haram (very simple equation)
Tapi, juga ingin diingatkan di sini, apabila ber'couple' sebelum nikah itu hukumnya haram, bukanlah bermakna kita boleh bergaul dengan jantina berlawanan sesuka hati dengan menjadikan alasan "kami tak bercouple, kami hanya berkawan".
Berbalas-balas mesej di YM dan tidak lupa mengucapkan selamat pagi dan malam kepada 'kawan'nya yg satu itu diselangi dengan perbualan telefon yang berpanjangan tanpa membicarakan hal-hal yang penting bukanlah jaminan bahawa kita tidak mendekati zina. BUKAN PERKATAAN 'COUPLE' ITU YANG MEMBUATKAN HUKUMNYA HARAM MELAINKAN PERBUATAN KETIKA BER'COUPLE' ITU SENDIRI. Jika anda tidak ber'couple' sekali pun anda dilarang bergaul bebas tanpa batas syara' antara lelaki dan wanita ajnabi.
Ada suatu ketika seorang kawan mempersoalkan tentang bagaimana hendak mengenal calon suami/isteri jika tidak ber'couple'. Ingatlah bahawa Islam itu bersifat syumul. Tidak ada suatu hal pun tidak diajar oleh Islam. Islam telah pun menyediakan garis panduan yang paling sempurna tanpa melibatkan maksiat dalam hal berkaitan mengenali pasangan untuk tujuan pernikahan.
Amat menyedihkan apabila orang Islam sendiri yang menanyakan soalan sebegini. Ia tidak sepatutnya berlaku. Apa ertinya kita menganut Islam jika kita tidak mengetahui ajaran-ajarannya?
Tapi tidak mengapa, inilah tujuan saya menulis tulisan sebegini untuk berkongsi ilmu dan memberitahu. Untuk soalan tadi, kita sambung seterusnya...

EPISOD 3:
Cara-cara mengenali pasangan selain daripada ber'couple'.
Sebagai agama yang paling sempurna dan satu-satunya agama yang diredhai Allah, Islam telah pun menggariskan panduan untuk diikuti oleh penganutnya berkenaan hal pra-perkahwinan. Cara yg dianjurkan Islam untuk pasangan yang ingin berkahwin kenal-mengenali adalah melalui cara pertunangan.
Tapi amat menyedihkan apabila paradigma masyarakat tentang konsep pertunangan sudah tersimpang jauh dari kebenaran. Buktinya, pertunangan yang sepatutnya dijadikan tempoh untuk lelaki & wanita HANYA saling mengenali telah dijadikan 'lesen' untuk pasangan tersebut berdua-duaan tanpa mahram, ibarat pasangan yang sudah bernikah. Konsep ini salah sama sekali !
Memetik kata-kata Ustaz Hassan Din dalam Al-Kuliyyah di bawah topik "Jodoh" di TV3 bertarikh 28 Julai 2006 berkenaan konsep pertunangan dalam Islam, beliau berkata, "Dalam masa pertunangan inilah kedua-dua pihak lelaki dan wanita akan saling mengenali antara satu sama lain, bagi memastikan adakah ini merupakan pasangan hidupnya yang sebenar. Jika kedua-duanya sudah bersetuju, barulah pernikahan dilangsungkan."
Sebagai contoh, katakan Superman sudah bersedia untuk berkahwin (maksud 'bersedia' di sini adalah bersedia dari segi kewangan, keadaan, mental serta fizikal). Dan sekarang adalah masa yang sangat sesuai dan ideal untuknya mendirikan rumah tangga. Pada masa yang sama juga dia sudah mempunyai calon sendiri, katakan si 'Cinderella' (bukan nama sebenar).
Superman berhasrat untuk memperisterikan si 'Cinderella'. Superman yang sangat faham akan konsep pertunangan pun terus berjumpa dengan kedua ibu bapa si 'Cinderella' dan menyatakan hasratnya untuk menyunting bunga rafflesia di taman (merisik). Apabila ibu bapa si 'Cinderella' sudah bersetuju dan si 'Cinderella' juga sudah bersetuju apabila diberitahu oleh ibu bapanya, Superman pun menghantar rombongan keluarganya untuk meminang si 'Cinderella'. Tidak timbul langsung hal-hal maksiat kan? Kan cantik tu. Dan apabila si 'Cinderella' sudah menjadi tunangan Superman, maka HARAM bagi lelaki lain meminang si 'Cinderella', walaupun lelaki itu adalah 'Professor Gadget' (bukan nama sebenar).
"Lelaki boleh la, kalau perempuan? Takkan perempuan nak merisik lelaki pula, perigi cari timba namanya tu". Mungkin inilah suara-suara yang bakal berkumandang memberikan respon. Ok. Mari kita sama-sama menelusuri kembali sirah perkahwinan agung, Muhammad S.A.W. dan Siti Khadijah r.a.. Saya yakin ramai yang akan mengakui bahawa perkahwinan agung ini dimulakan oleh Siti Khadijah r.a. dahulu. Ini telah pun diajar dalam subjek Sirah di sekolah agama. Pada mulanya, Siti Khadijah r.a. menyatakan hasrat hatinya kepada pakcik Rasulullah S.A.W. iaitu Abbas, agar merisik baginda.
Setelah baginda bersetuju, barulah keluarga baginda menghantar rombongan meminang Siti Khadijah r.a.. Begitulah yang diajarkan sirah kepada kita. Lalu, apa salahnya jika wanita yg memulakan dahulu? Malah wanita sebegini lebih mulia daripada wanita yang hanya menunggu dipinang oleh putera raja kayangan.
Ustaz Hassan Din juga turut menegaskan bahawa pasangan yang bertunang diharamkan bergaul bebas seperti suami isteri. Mereka masih tetap terikat dengan batas-batas pergaulan antara lelaki dan wanita ajnabi. Tempoh bertunang hanyalah tempoh kenal-mengenal, bukannya tempoh melayan-layan perasaan cinta. Beliau menambah,
"Dan jika dalam tempoh pertunangan itu didapati kedua-dua pasangan ini tidak secocok atau tidak serasi, maka pertunangan bolehlah diputuskan secara baik melalui persetujuan kedua-dua belah pihak."
Jika konsep pertunangan ini dilihat dengan mata hati yanang diselaputi iman dan taqwa, akan terzahir berbagai hikmah yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Bijaksana. Selain menghindari maksiat, pertunangan juga dapat memelihara maruah kedua-dua keluarga yang terlibat. Kalau pun pertunangan diputuskan, kedua-dua pihak keluarga masih dapat meneruskan silaturrahim yg sudah terbina, tanpa rasa dendam dan benci.
Maka dengan lahirnya ketiga-tiga episod ni, diharap jelaslah kepada kita serba sedikit tentang hukum ber'couple' sebelum nikah dan bagaimana cara yang sebenarnya untuk kita mengenali pasangan untuk tujuan pernikahan.
Sebagai agama yang paling sempurna dan satu-satunya agama yang diredhai Allah, Islam telah pun menggariskan panduan untuk diikuti oleh penganutnya berkenaan hal pra-perkahwinan. Cara yg dianjurkan Islam untuk pasangan yang ingin berkahwin kenal-mengenali adalah melalui cara pertunangan.
Tapi amat menyedihkan apabila paradigma masyarakat tentang konsep pertunangan sudah tersimpang jauh dari kebenaran. Buktinya, pertunangan yang sepatutnya dijadikan tempoh untuk lelaki & wanita HANYA saling mengenali telah dijadikan 'lesen' untuk pasangan tersebut berdua-duaan tanpa mahram, ibarat pasangan yang sudah bernikah. Konsep ini salah sama sekali !
Memetik kata-kata Ustaz Hassan Din dalam Al-Kuliyyah di bawah topik "Jodoh" di TV3 bertarikh 28 Julai 2006 berkenaan konsep pertunangan dalam Islam, beliau berkata, "Dalam masa pertunangan inilah kedua-dua pihak lelaki dan wanita akan saling mengenali antara satu sama lain, bagi memastikan adakah ini merupakan pasangan hidupnya yang sebenar. Jika kedua-duanya sudah bersetuju, barulah pernikahan dilangsungkan."
Sebagai contoh, katakan Superman sudah bersedia untuk berkahwin (maksud 'bersedia' di sini adalah bersedia dari segi kewangan, keadaan, mental serta fizikal). Dan sekarang adalah masa yang sangat sesuai dan ideal untuknya mendirikan rumah tangga. Pada masa yang sama juga dia sudah mempunyai calon sendiri, katakan si 'Cinderella' (bukan nama sebenar).
Superman berhasrat untuk memperisterikan si 'Cinderella'. Superman yang sangat faham akan konsep pertunangan pun terus berjumpa dengan kedua ibu bapa si 'Cinderella' dan menyatakan hasratnya untuk menyunting bunga rafflesia di taman (merisik). Apabila ibu bapa si 'Cinderella' sudah bersetuju dan si 'Cinderella' juga sudah bersetuju apabila diberitahu oleh ibu bapanya, Superman pun menghantar rombongan keluarganya untuk meminang si 'Cinderella'. Tidak timbul langsung hal-hal maksiat kan? Kan cantik tu. Dan apabila si 'Cinderella' sudah menjadi tunangan Superman, maka HARAM bagi lelaki lain meminang si 'Cinderella', walaupun lelaki itu adalah 'Professor Gadget' (bukan nama sebenar).
"Lelaki boleh la, kalau perempuan? Takkan perempuan nak merisik lelaki pula, perigi cari timba namanya tu". Mungkin inilah suara-suara yang bakal berkumandang memberikan respon. Ok. Mari kita sama-sama menelusuri kembali sirah perkahwinan agung, Muhammad S.A.W. dan Siti Khadijah r.a.. Saya yakin ramai yang akan mengakui bahawa perkahwinan agung ini dimulakan oleh Siti Khadijah r.a. dahulu. Ini telah pun diajar dalam subjek Sirah di sekolah agama. Pada mulanya, Siti Khadijah r.a. menyatakan hasrat hatinya kepada pakcik Rasulullah S.A.W. iaitu Abbas, agar merisik baginda.
Setelah baginda bersetuju, barulah keluarga baginda menghantar rombongan meminang Siti Khadijah r.a.. Begitulah yang diajarkan sirah kepada kita. Lalu, apa salahnya jika wanita yg memulakan dahulu? Malah wanita sebegini lebih mulia daripada wanita yang hanya menunggu dipinang oleh putera raja kayangan.
Ustaz Hassan Din juga turut menegaskan bahawa pasangan yang bertunang diharamkan bergaul bebas seperti suami isteri. Mereka masih tetap terikat dengan batas-batas pergaulan antara lelaki dan wanita ajnabi. Tempoh bertunang hanyalah tempoh kenal-mengenal, bukannya tempoh melayan-layan perasaan cinta. Beliau menambah,
"Dan jika dalam tempoh pertunangan itu didapati kedua-dua pasangan ini tidak secocok atau tidak serasi, maka pertunangan bolehlah diputuskan secara baik melalui persetujuan kedua-dua belah pihak."
Jika konsep pertunangan ini dilihat dengan mata hati yanang diselaputi iman dan taqwa, akan terzahir berbagai hikmah yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Bijaksana. Selain menghindari maksiat, pertunangan juga dapat memelihara maruah kedua-dua keluarga yang terlibat. Kalau pun pertunangan diputuskan, kedua-dua pihak keluarga masih dapat meneruskan silaturrahim yg sudah terbina, tanpa rasa dendam dan benci.
Maka dengan lahirnya ketiga-tiga episod ni, diharap jelaslah kepada kita serba sedikit tentang hukum ber'couple' sebelum nikah dan bagaimana cara yang sebenarnya untuk kita mengenali pasangan untuk tujuan pernikahan.

Dengan ini, saya menyeru diri saya sendiri dan kawan-kawan sekalian supaya tinggalkanlah maksiat cinta nafsu syaitan laknatullah ini secepat mungkin. Bagi mereka yang ber'couple' tu, cepat-cepat lah break up. Kita ni dah la amal tak banyak, sembahyang pula ada yang tinggal. ditambah pula dengan dosa 'couple' lagi (dosa berdua-duaan, zina mata, zina telinga, zina tangan, zina kaki dan zina hati). Dibuatnya esok mati,macam mana? Memanglah dosa masing-masing tanggung, tapi jika dah mati orang lain juga yang tolong mandikan, kapankan, tanamkan.
Dan janganlah pula kita menjadi orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Firman Allah dalam Surah Al-Jaathiyah ayat 23 :
"Dengan yang demikian, bagaimana fikiranmu (wahai Muhammad) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan yang dipatuhinya dan dia pula disesatkan oleh Allah kerana diketahuiNya (bahawa dia tetap kufur ingkar) dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan dia berkeadaan demikian)? Oleh itu, mengapa kamu (wahai orang-orang yang ingkar) tidak ingat dan insaf?"
Apabila sudah diketahui hukum-hukum Allah, maka hendaklah kita patuhinya. Yang haram segera ditinggalkan. Harap kita tidak menjadi seperti mereka yang di dalam firman Allah S.W.T. dalam Surah Al-Jaathiyah ayat 7-11 :
Kecelakaanlah bagi tiap-tiap pendusta yang berdosa; (7) Yang mendengar ayat-ayat penerangan Allah sentiasa dibacakan kepadanya, kemudian dia terus berlagak sombong (enggan menerimanya), seolah-olah dia tidak mendengarnya; oleh itu gembirakanlah dia dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya. (8) Dan apabila sampai ke pengetahuannya sesuatu dari ayat-ayat penerangan Kami, dia menjadikannya ejek-ejekan; mereka yang demikian keadaannya, akan beroleh azab yang menghina. (9) Di hadapan mereka (di akhirat kelak) ada Neraka Jahanam (yang disediakan untuk mereka) dan apa jua yang mereka usahakan, tidak dapat menyelamatkan mereka sedikit pun; demikian juga yang mereka sembah atau puja selain Allah, tidak dapat memberikan sebarang perlindungan dan (kesudahannya) mereka akan beroleh azab seksa yang besar. (10) Al-Quran ini ialah hidayat petunjuk yang cukup lengkap dan orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat penerangan Tuhannya, mereka akan beroleh azab dari jenis azab seksa yang tidak terperi sakitnya. (11)
Bagi mereka yang mungkin sudah agak lama mengamalkan maksiat cinta ini dalam kehidupan seharian mereka, mungkin agak sukar untuk meninggalkannya. Namun ingatlah firman Allah S.W.T. dalam Surah Al-Baqarah ayat 216 :"..dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya."
Dan semoga kita semua diberi kekuatan iman dan taqwa oleh Allah S.W.T. untuk menegakkan Islam di dalam diri kita. Kerana ramai kawan-kawan kita di luar sana yang sudah tahu halal haram tapi masih melakukan yang ditegah mungkin disebabkan mereka tak punya kekuatan. Dan percayalah kepada qada' dan qadar Allah S.W.T., jika ada jodoh takkan ke mana, jika bukan di dunia yang sementara ni, di syurga yang kekal abadi Insya Allah. Tapi jika bukan jodoh, berkorbanlah nyawa hatta anda mempunyai 100 nyawa sekalipun, nescaya takkan kesampaian.
Wallahua'lam.
Khamis, 6 Ogos 2009
:: Luahan Kekasih Buat Kekasih ::
Islam merupakan agama yang syumul mencangkupi semua masyarakat dan bidang semenjak insan yang pertama Adam a.s sehinggalah Nabi utusan akhir zaman Muhammad S.A.W. Islam merupakan sebuah agama yang cukup lengkap. Islam tidak mungkin menyekat fitrah manusia yang sememangnya ingin mencintai dan dicintai. Untuk apa Allah Taala menciptakan manusia mempunyai fitrah seperti ini jika manusia akan diperintahkan untuk membunuh fitrahnya itu? Ajaran Islam telah diturunkan oleh Allah Taala untuk memasang bingkai agar kemahuan manusia itu dapat disalurkan dengan cara yang terbaik. Selain itu, Islam menutup rapat jalan kemaksiatan dan membuka seluas-luasnya jalan menuju ketaatan serta memberi dorongan kuat ke arah perlaksanaannya. Rasulullah S.A.W pernah mengecam salah seorang sahabat yang bertekad untuk tidak berkahwin. Ini merupakan salah satu bukti bahawa Islam mengakui dan mengiktiraf fitrah manusia yang ingin mendambakan cinta. Namun persoalannya, bagaimana cara terbaik untuk menyalurkan cinta suci ini selari dengan kehendak Allah Taala dan Rasulullah S.A.W mengikut era semasa? Percintaan dalam Islam hanyalah selepas termeterainya sebuah ikatan pernikahan antara dua insan, iaitu selepas lafaz Ijab dan Qabul. Islam telah menggariskan suatu panduan dalam menuju ke arah gerbang perkahwinan ini dengan cara lebih selamat. Sebenarnya dalam Islam, apabila seseorang lelaki itu telah berkenan dengan seorang wanita dan ingin menjadikan teman hidup, sepatutnya lelaki itu berjumpa dengan wali si perempuan tadi bagi menyatakan niatnya untuk masuk meminang. Tetapi masyarakat sekarang silap. Mereka terus berjumpa dengan tuan empunya diri dan terus menyatakan niat hati. Kemudian mereka bercinta, berjanji sumpah setia dan berkenalan dalam masa terlalu lama. Sedangkan ibu bapa mereka langsung tidak tahu akan perhubungan mereka ini. Setelah sekian lama bercinta, apabila ingin melangsungkan perkahwinan, emak dan ayah tidak bersetuju dengan pilihan hati. Akhirnya mengakibatkan hubungan kekeluargaan menjadi keruh. Terlebih malang tidak mendapat kerestuan ibu bapa, maka jauhlah keberkatan hidup si anak. Oleh itu, selepas menyatakan niat kepada ibu bapa, mereka akan berjumpa sendiri dengan wali perempuan tadi untuk mengenali mereka dan calon menantu mereka dengan lebih jelas. Setelah kedua-dua pihak bersetuju, barulah dijalankan upacara peminangan, iaitu kedua-dua insan tadi akan diikat menjadi pasangan tunang. Apabila sudah menjadi tunangan orang, adalah haram perempuan itu dipinang oleh lelaki lain, seperti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah S.A.W dalam hadith baginda. Dalam masa pertunangan inilah kedua-dua pihak lelaki dan perempuan tadi akan saling mengenali antara satu-sama lain, bagi memastikan adakah ini merupakan pasangan hidupnya yang sebenar atau sebaliknya. Jika kedua-duanya sudah bersetuju, barulah pernikahan dilangsungkan. Namun begitu bertunang bukan merupakan satu tiket yang membenarkan kedua-dua pasangan bermesraan seperti pasangan suami isteri. Bertunang hanyalah untuk saling mengenali antara satu sama lain dan bukannya untuk bercinta. Pasangan yang telah bertunang tetap tidak boleh keluar berdua-duaan tanpa ditemani oleh ahli keluarga atau mahramnya. Selagi belum bernikah, mereka tetap dua insan yang bukan mahram dan masih perlu menjaga batasan-batasan syara'. Jika dalam tempoh pertunangan itu didapati kedua-dua pasangan ini tidak secocok atau tidak serasi, maka pertunangan boleh diputuskan secara baik melalui persetujuan kedua-dua belah pihak.
Bolehkah Bercinta Sebelum Kahwin? Secara kasarnya ada sesetengah ulama’ menganggap bercinta itu halal (harus) tetapi jumhur ulama’ lain pula menganggap haram. Bagaimanapun dikalangan ulama’ fiqh terdapat beberapa ulama’ yang merupakan ahli pencinta yang hebat seperti Daud az Zahiri yang merupakan Imam Mazhab az Zahiri. Baiklah, penulis akan mengungkapkan beberapa hujah di sebalik bercinta sebelum berkahwin dibolehkan dan diharamkan, namun keputusan terakhir adalah berdasarkan pertimbangan akal yang sihat, di mana melihat isu ini mengikut kesesuaian diri masing-masing. Pandangan pertama: Bercinta merupakan antara fitrah insani penting dalam kehidupan. Tiada siapa yang dapat lari daripada ber-couple dan bercinta walaupun cara dan kaedah mereka nampak Islamik (menjaga hawa nafsu dari maksiat), termasuk mereka yang bercinta selepas berkahwin. Hal ini kerana mereka yang bercinta selepas berkahwin akan melihat bakal isteri sebelum Ijab dan Qabul. Jika bercinta dianggap sebagai mukaddimah pada perkahwinan, maka ber-couple (kaedah Islamik) pula dianggap sebagai mukaddimah pada bercinta. Kedua-dua ini berkait antara satu sama lain, kecuali bagi mereka berkahwin atas pilihan keluarga. Ber-couple yang penulis maksudkan ialah bukan berdua-duaan sehingga timbul fitnah antara lelaki dan perempuan bukan mahram, tetapi hanya sekadar ingin menyatakan luahan hati dan bersedia mengambil pasangan masing-masing sebagai calon suami dan isteri. Jangan salah andaian. Bercinta dianggap berguna jika dapat membawa pada kebaikan kepada kedua-dua pasangan. Sebagai contoh ber-couple dan bercinta yang disusuli dengan perkahwinan dan mendirikan rumahtangga adalah berguna kerana membawa kebaikan. Maka sini terbentuk pula keluarga, dan daripada keluarga ini terbentuk pula masyarakat seterusnya negara. Pandangan Kedua: Namun dari sudut lain, bercinta dianggap tidak berguna dan tidak membawa kepada kebaikan. Ber-couple dan bercinta seperti ini tidak menjadi mukaddimah pada perkahwinan sebaliknya mukaddimah pada melahirkan anak luar nikah atau mencampakkan anak yang tidak berdosa ke dalam tong sampah dan longkang. Bercinta seperti ini dilarang dan diharamkan dalam Islam. Selain itu perlu diingatkan juga bahawa tindakan seseorang itu ber-couple dan bercinta itu biasanya bertitik tolak daripada perasaan dan emosi, maka dengan itu mudah sekali terjerumus dalam perkara-perkara yang tidak baik. Oleh itu sesiapa sahaja yang berhadapan dengan ajakan perasaan dan emosi untuk ber-couple dan bercinta perlu berusaha sedaya upaya mengunakan kewarasan akal. Malah sebagai seorang muslim kita juga perlu mengelak daripada konteks fizikal atau luaran yang boleh mencetuskan keghairahan seks yang seterusnya menyebabkan berlaku perlanggaran hukum Allah Taala iaitu perzinaan. Dalam hal ini adalah amat perlu setiap individu muslim berpegang kepada tanggugjawab menjaga dan memelihara aurat kerana persoalan keghairahan seks mempunyai hubungkait yang amat besar untuk berlakunya perzinaan. Jawapannya ada dalam diri anda dengan menggunakan pertimbangan akal yang sihat, kaji selidik dan pertimbangan Iman yang mana bertepatan dengan ajaran Islam. Manusia yang diamanahkan Allah Taala sebagai khalifah di muka bumi ini perlu meneruskan survival dan kemandiriannya sehingga ke hari kiamat. Kemungkinan jika manusia tidak bercinta (tidak semua), kita akan pupus di dunia dan sudah tentu menyalahi amanah Allah Taala itu. Tetapi jika bercinta itu membawa ke arah kebinasaan, maka menjauhinya adalah sebaik-baik tindakan. Kebiasaan mengundang kebinasaan. Hukum Menyanyi Lagu-lagu Kasih Terdapat beberapa riwayat menceritakan Nabi Muhammad S.A.W membenarkan hamba menyanyikan lagu berbentuk kasih (jiwa) dipanggil ghazl. Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Rasulullah S.A.W menyuruh Aesyah menghantar seorang hamba yang pandai menyanyi lagu ghazl kepada pengantin kaum Ansar yang menjadi kerabat Aesyah. Ini kerana menurut Nabi, kaum Ansar ada keramaian termasuk mendendangkan lagu-lagu ghazl. Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya kaum Ansar adalah kaum yang ada pada mereka ghazl” (Hadith riwayat Ibnu Majah) Ghazl bermaksud mengurat tetapi ghazl dalam beberapa hadith Nabi bermaksud mendendangkan lagu-lagu cinta yang sunyi daripada kata-kata baik dan sebagainya. Dalam hadith lain, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah S.A.W menginggatkan supaya seorang penyanyi keluarga baginda bernama Anjasyah supaya jangan terlalu melampau mendendangkan lagu-lagu yang mengandungi unsur-unsur tentang cinta.
Islam Dan Cinta Islam adalah agama yang membawa matlamat cinta. Cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul, cinta kepada negara dan cinta sesama manusia. Sebab itulah Rasulullah S.A.W menekankan dalam mendidik anak-anak daripada kecil lagi diterapkan soal cinta. Dalam sebuah hadith: Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud: “Tanamkan dalam diri anak-anak kamu rasa cintakan Allah, cintakan Rasul, cintakan ahli keluarga Rasulullah dan cintakan membaca Al Quran” (el Hadith) Ini menunjukkan cinta itu suatu yang penting diterapkan dalam diri setiap muslim sehinggakan Nabi S.A.W bersabda bahawa tidak masuk syurga sehingga kamu belajar cinta-mencintai diantara satu sama lain.Remaja bercinta bukan suatu perkara yang melanggar fitrah. Ia satu fitrah tetapi perlu diaturkan bagaimana cara mereka bercinta. Cinta tidak boleh berdasarkan emosi semata-mata. Remaja mesti ada rasa tanggungjawab. Manakala dalam hal lain dan bukti dimana cinta dibolehkan mengikut panduan kisah Nabi Yusuf a.s dan Zulaikha boleh dijadikan panduan. Allah Taala menyebut dalam Al Quran: Allah Taala berfirman yang bermaksud: “Dan sebenarnya perempuan itu telah berkeinginan sangat kepadanya dan Yusuf pula (mungkin timbul) keinginannya kepada perempuan itu, kalaulah dia tidak menyedari kenyataan Tuhannya (tentang kejinya perbuatan zina itu)” Yusuf (12:24) Nabi Yusuf a.s berjaya mengawal diri dari terjerumus dalam cinta yang membawa jenayah zina. Islam menggariskan beberapa panduan dalam menjaga tatasusila masyarakat terutama hubungan antara lelaki dan perempuan, antaranya: (1) tidak dibenarkan pergaulan bebas. (2) tidak duduk berdua-duaan tanpa mahram. (3) menjaga adab pertuturan dan berpakaian. (4) menjaga pandangan mata.(5) ikhlas untuk mengambil sebagai isteri. Dalam keadaan ini berpasangan dan percintaan dibenarkan. Kesimpulan: Secara umumnya perasaan kasih dan sayang termasuk dalam prinsip dan nilai yang terbaik yang diterima Islam. Kehidupan di dunia menjadi aman dan bahagia apabila makhluk yang ada saling kasih mengasihi antara satu sama lain. Allah Taala sendiri bersifat Rahman (Pemurah) dan Rahim (Pengasih). Islam membahagikan perasaan kasih sayang manusia kepada beberapa peringkat termasuk kepada keluarga, ibu bapa, anak-anak, jiran, bangsa, negara dan Agama. Termasuk dalam kategori cinta juga ialah cinta kepada Allah dan Rasul. Cinta pada Allah ialah cinta hamba kepada Penciptanya dan cinta kepada Rasul ialah pembimbing manusia sejagat kepada Allah dan agama-Nya. Bagaimanapun, budaya berpasangan dan bercinta tanpa panduan agama dan menurut cara hidup orang Barat yang bebas adalah dilarang kerana membawa kerosakan moral dan akhlak individu dalam masyarakat. Lihat, betapa indahnya Islam mengaturkan perjalanan hidup penganutnya. Cukup teratur, sitematik dan komprohensif. Cara ini dapat mengelakkan daripada berlakunya maksiat dan perkara-perkara lain yang tidak diinginkan. Dalam masa yang sama menuju kepada pembentukan keluarga bahagia yang diidamkan oleh setiap manusia serta memperolehi keredhaan Allah Taala. Inilah bercinta dalam Islam, iaitu sebaik-baiknya selepas perkahwinan. Insha-Allah kalau segalanya dilakukan dengan niat ikhlas kerana Allah Taala dan bukan atas dasar nafsu dan keduniaan semata-mata, maka Allah Taala akan mempermudahkan setiap urusan kita itu. Dalam konteks kita yang masih menimba ilmu, tidak perlulah bersusah-susah mencari jodoh sekarang. Jodoh di tangan Allah, pasti bertemu jua dengan takdir-Nya. Sekarang kita mempunyai matlamat yang lebih penting iaitu mendapatkan kecemerlangan dalam pelajaran dan menunaikan tanggungjawab kita sebagai muslim serta janji kepada kedua ibu bapa kita. Banyak lagi tanggungjawab yang perlu kita pikul dan bercinta bukanlah sesuatu yang perlu buat masa sekarang. Berusahalah menjadi muslim dan muslimah sejati dengan cara mengamalkan Islam dalam kehidupan. Matlamat tidak boleh menghalalkan cara.
Bolehkah Bercinta Sebelum Kahwin? Secara kasarnya ada sesetengah ulama’ menganggap bercinta itu halal (harus) tetapi jumhur ulama’ lain pula menganggap haram. Bagaimanapun dikalangan ulama’ fiqh terdapat beberapa ulama’ yang merupakan ahli pencinta yang hebat seperti Daud az Zahiri yang merupakan Imam Mazhab az Zahiri. Baiklah, penulis akan mengungkapkan beberapa hujah di sebalik bercinta sebelum berkahwin dibolehkan dan diharamkan, namun keputusan terakhir adalah berdasarkan pertimbangan akal yang sihat, di mana melihat isu ini mengikut kesesuaian diri masing-masing. Pandangan pertama: Bercinta merupakan antara fitrah insani penting dalam kehidupan. Tiada siapa yang dapat lari daripada ber-couple dan bercinta walaupun cara dan kaedah mereka nampak Islamik (menjaga hawa nafsu dari maksiat), termasuk mereka yang bercinta selepas berkahwin. Hal ini kerana mereka yang bercinta selepas berkahwin akan melihat bakal isteri sebelum Ijab dan Qabul. Jika bercinta dianggap sebagai mukaddimah pada perkahwinan, maka ber-couple (kaedah Islamik) pula dianggap sebagai mukaddimah pada bercinta. Kedua-dua ini berkait antara satu sama lain, kecuali bagi mereka berkahwin atas pilihan keluarga. Ber-couple yang penulis maksudkan ialah bukan berdua-duaan sehingga timbul fitnah antara lelaki dan perempuan bukan mahram, tetapi hanya sekadar ingin menyatakan luahan hati dan bersedia mengambil pasangan masing-masing sebagai calon suami dan isteri. Jangan salah andaian. Bercinta dianggap berguna jika dapat membawa pada kebaikan kepada kedua-dua pasangan. Sebagai contoh ber-couple dan bercinta yang disusuli dengan perkahwinan dan mendirikan rumahtangga adalah berguna kerana membawa kebaikan. Maka sini terbentuk pula keluarga, dan daripada keluarga ini terbentuk pula masyarakat seterusnya negara. Pandangan Kedua: Namun dari sudut lain, bercinta dianggap tidak berguna dan tidak membawa kepada kebaikan. Ber-couple dan bercinta seperti ini tidak menjadi mukaddimah pada perkahwinan sebaliknya mukaddimah pada melahirkan anak luar nikah atau mencampakkan anak yang tidak berdosa ke dalam tong sampah dan longkang. Bercinta seperti ini dilarang dan diharamkan dalam Islam. Selain itu perlu diingatkan juga bahawa tindakan seseorang itu ber-couple dan bercinta itu biasanya bertitik tolak daripada perasaan dan emosi, maka dengan itu mudah sekali terjerumus dalam perkara-perkara yang tidak baik. Oleh itu sesiapa sahaja yang berhadapan dengan ajakan perasaan dan emosi untuk ber-couple dan bercinta perlu berusaha sedaya upaya mengunakan kewarasan akal. Malah sebagai seorang muslim kita juga perlu mengelak daripada konteks fizikal atau luaran yang boleh mencetuskan keghairahan seks yang seterusnya menyebabkan berlaku perlanggaran hukum Allah Taala iaitu perzinaan. Dalam hal ini adalah amat perlu setiap individu muslim berpegang kepada tanggugjawab menjaga dan memelihara aurat kerana persoalan keghairahan seks mempunyai hubungkait yang amat besar untuk berlakunya perzinaan. Jawapannya ada dalam diri anda dengan menggunakan pertimbangan akal yang sihat, kaji selidik dan pertimbangan Iman yang mana bertepatan dengan ajaran Islam. Manusia yang diamanahkan Allah Taala sebagai khalifah di muka bumi ini perlu meneruskan survival dan kemandiriannya sehingga ke hari kiamat. Kemungkinan jika manusia tidak bercinta (tidak semua), kita akan pupus di dunia dan sudah tentu menyalahi amanah Allah Taala itu. Tetapi jika bercinta itu membawa ke arah kebinasaan, maka menjauhinya adalah sebaik-baik tindakan. Kebiasaan mengundang kebinasaan. Hukum Menyanyi Lagu-lagu Kasih Terdapat beberapa riwayat menceritakan Nabi Muhammad S.A.W membenarkan hamba menyanyikan lagu berbentuk kasih (jiwa) dipanggil ghazl. Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Rasulullah S.A.W menyuruh Aesyah menghantar seorang hamba yang pandai menyanyi lagu ghazl kepada pengantin kaum Ansar yang menjadi kerabat Aesyah. Ini kerana menurut Nabi, kaum Ansar ada keramaian termasuk mendendangkan lagu-lagu ghazl. Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya kaum Ansar adalah kaum yang ada pada mereka ghazl” (Hadith riwayat Ibnu Majah) Ghazl bermaksud mengurat tetapi ghazl dalam beberapa hadith Nabi bermaksud mendendangkan lagu-lagu cinta yang sunyi daripada kata-kata baik dan sebagainya. Dalam hadith lain, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah S.A.W menginggatkan supaya seorang penyanyi keluarga baginda bernama Anjasyah supaya jangan terlalu melampau mendendangkan lagu-lagu yang mengandungi unsur-unsur tentang cinta.
Islam Dan Cinta Islam adalah agama yang membawa matlamat cinta. Cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul, cinta kepada negara dan cinta sesama manusia. Sebab itulah Rasulullah S.A.W menekankan dalam mendidik anak-anak daripada kecil lagi diterapkan soal cinta. Dalam sebuah hadith: Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud: “Tanamkan dalam diri anak-anak kamu rasa cintakan Allah, cintakan Rasul, cintakan ahli keluarga Rasulullah dan cintakan membaca Al Quran” (el Hadith) Ini menunjukkan cinta itu suatu yang penting diterapkan dalam diri setiap muslim sehinggakan Nabi S.A.W bersabda bahawa tidak masuk syurga sehingga kamu belajar cinta-mencintai diantara satu sama lain.Remaja bercinta bukan suatu perkara yang melanggar fitrah. Ia satu fitrah tetapi perlu diaturkan bagaimana cara mereka bercinta. Cinta tidak boleh berdasarkan emosi semata-mata. Remaja mesti ada rasa tanggungjawab. Manakala dalam hal lain dan bukti dimana cinta dibolehkan mengikut panduan kisah Nabi Yusuf a.s dan Zulaikha boleh dijadikan panduan. Allah Taala menyebut dalam Al Quran: Allah Taala berfirman yang bermaksud: “Dan sebenarnya perempuan itu telah berkeinginan sangat kepadanya dan Yusuf pula (mungkin timbul) keinginannya kepada perempuan itu, kalaulah dia tidak menyedari kenyataan Tuhannya (tentang kejinya perbuatan zina itu)” Yusuf (12:24) Nabi Yusuf a.s berjaya mengawal diri dari terjerumus dalam cinta yang membawa jenayah zina. Islam menggariskan beberapa panduan dalam menjaga tatasusila masyarakat terutama hubungan antara lelaki dan perempuan, antaranya: (1) tidak dibenarkan pergaulan bebas. (2) tidak duduk berdua-duaan tanpa mahram. (3) menjaga adab pertuturan dan berpakaian. (4) menjaga pandangan mata.(5) ikhlas untuk mengambil sebagai isteri. Dalam keadaan ini berpasangan dan percintaan dibenarkan. Kesimpulan: Secara umumnya perasaan kasih dan sayang termasuk dalam prinsip dan nilai yang terbaik yang diterima Islam. Kehidupan di dunia menjadi aman dan bahagia apabila makhluk yang ada saling kasih mengasihi antara satu sama lain. Allah Taala sendiri bersifat Rahman (Pemurah) dan Rahim (Pengasih). Islam membahagikan perasaan kasih sayang manusia kepada beberapa peringkat termasuk kepada keluarga, ibu bapa, anak-anak, jiran, bangsa, negara dan Agama. Termasuk dalam kategori cinta juga ialah cinta kepada Allah dan Rasul. Cinta pada Allah ialah cinta hamba kepada Penciptanya dan cinta kepada Rasul ialah pembimbing manusia sejagat kepada Allah dan agama-Nya. Bagaimanapun, budaya berpasangan dan bercinta tanpa panduan agama dan menurut cara hidup orang Barat yang bebas adalah dilarang kerana membawa kerosakan moral dan akhlak individu dalam masyarakat. Lihat, betapa indahnya Islam mengaturkan perjalanan hidup penganutnya. Cukup teratur, sitematik dan komprohensif. Cara ini dapat mengelakkan daripada berlakunya maksiat dan perkara-perkara lain yang tidak diinginkan. Dalam masa yang sama menuju kepada pembentukan keluarga bahagia yang diidamkan oleh setiap manusia serta memperolehi keredhaan Allah Taala. Inilah bercinta dalam Islam, iaitu sebaik-baiknya selepas perkahwinan. Insha-Allah kalau segalanya dilakukan dengan niat ikhlas kerana Allah Taala dan bukan atas dasar nafsu dan keduniaan semata-mata, maka Allah Taala akan mempermudahkan setiap urusan kita itu. Dalam konteks kita yang masih menimba ilmu, tidak perlulah bersusah-susah mencari jodoh sekarang. Jodoh di tangan Allah, pasti bertemu jua dengan takdir-Nya. Sekarang kita mempunyai matlamat yang lebih penting iaitu mendapatkan kecemerlangan dalam pelajaran dan menunaikan tanggungjawab kita sebagai muslim serta janji kepada kedua ibu bapa kita. Banyak lagi tanggungjawab yang perlu kita pikul dan bercinta bukanlah sesuatu yang perlu buat masa sekarang. Berusahalah menjadi muslim dan muslimah sejati dengan cara mengamalkan Islam dalam kehidupan. Matlamat tidak boleh menghalalkan cara.
Langgan:
Catatan (Atom)